PADA dinihari yang senyap, 16 Agustus 2026, pukul 01.23. Lelaki istimewa itu telah meninggal dunia dalam usia 52 tahun. Namanya Aldi Mulyadi. Lelaki yang bisa memainkan gitar. Lelaki yang punya tato burung elang di salah satu bahunya. Dia alumni Arkeologi Universitas Hasanuddin. Punya senyum yang khas karena gigi depannya tak beraturan.
Selang yang terhubung dengan monitor menempel di bagian dada. Selang penyedot cairan yang menembus dinding dadanya menuju paru di bagian kirinya, juga masih belum terlepas. Tabung oksigen di bagian kiri dekat kepalanya terus bergelembung. Serta satu tambahan selang yang menrobos di salah satu lubang hidungnya sebagai asupan makanan.
Saya terpaku menyaksikannya. Ketika mendekat, saya buang suara dan meperkenalkan diri lalu mengusapnya. Dia tersenyum dan berbalik ke arahku. Saya memintanya istirahat dan memegangi tangan kirinya yang terhubung pula dengan selang infus.
Saya tahu, tangan ini yang beberapa kali menawari rokok dan membayarkan kopi saat berjumpa. “Sekalipun saya tidak ada uang. Jangan juga biarkan kakakmu ini dibayarkan adeknya,” begitu katanya.
Meski saya berkeras untuk mentraktirnya, dia tersenyum dan selalu marah. “Itu tommi nanti kau ingatkanka. Ada kakakmu yang miskin, tapi selalu ingin memberikan hal-hal kecil yang jadi daging dan darah dalam tubuh,” lanjutnya.
Saya lupa tahun pertemuan, tapi itu di Bantaeng. Saya ingat, honor tulisanku sudah masuk ke reening. Saya buka mobile banking dan perlihatkan saldo, nilainya Rp2.000.000. Dan bilang; saya ada uang kak dan mau traktir.
“Aiii ini dua kalinya saya bahagia begini. Pertama waktu Buyung jadi wartawan. Kau belikanma pade rokok, biar saya tetap yang bayar kopi,” katanya.
Buyung adalah Buyung Maksum. Dia adalah sahabat karib Aldi sejak di Palopo. Lalu mereka tinggal bersama saat kuliah di perumahaan CV Dewi, Jalan Abdullah Daeng Sirua, dekat jembatan Racing Centre itu.
Buyung adalah alumni STIKOM Fajar, angkatan 1996. Dia lah orang yang membentuk dan membimbing saya menjadi wartawan. Buyung masih sehat dan saban waktu terus mengunjungi Aldi di rumah sakit. Dari Buyung, saya mendapatkan kabar terbaru dan perkembangan dari Aldi.
Pada 22 Juli 2026, saya mengirim pesan ke Buyung, sehari setelah saya mengunjungi Aldi. “Sakit apa kak Aldi,” kataku.
“Agak berat sakitnya,” jawabnya.
Saya menarik napas. Mengingat Aldi yang masih gembira dan bercerita. Dia bahkan menjelaskan bagaimana kondisinya dan memperlihatkan selang pembuangan cairan di dada kirinya itu. “Jadi itu banyak cairan di paru. Jadi perlu disedot,” katanya.
“Waktu di sedot, seperti buka keran air. Hanya beberapa jam saja, ada 2 liter itu,” lanjutnya.
“Cairan keluar agak enak bernapasnya.”
Kami saling menguatkan. Tempat Aldi dirawat itu ruangan kelas 1, perawatan Palem kamar 104. Saya mengenal ruang perawatan itu pada tiga tahun lalu. Itu nama gedung perawatan tempat bapak saya dirawat selama dua pekan.
Bedanya, bapaknya saya berada di lantai dua, Aldi berada di lantai 1.
Dan sejatinya, para pembesuk pasien dengan bahasa template, akan berucap: tetap semangat dan kuat. “Ini mi perlawanannya. Makanya bisa bertahan sampai disini,” kata Aldi.
“Dapat tong mi giliran. Kan bergiliran ji semua orang,” lanjutnya.
“Layaknya Homo Sapiens bertumbuh di kak,” kataku.
“Itu dia,” jawabnya.
Sebentar saja kami berbagi kelakar. Lalu saya pamit pulang.
Selanjutnya pada Rabu 12 Agustus 2026, pukul 21.37 Buyung mengirimkan video Aldi yang sedang sesak hebat. Saya memandangi video dan melihatnya sudah sangat kurus, jauh berbeda ketika kami masih membagi tawa.
“Tolong diteruskan ke grup Arkeo. Mohon doanya. Kondisi Aldi skrg,” begitu pesan yang mengiringi video.
Semalaman saya hampir tak tidur. Mendekatkan gawai di dekat telinga. Dan bahkan meletakkannya di bawah bantal. Saya membalas pesan itu; kodong Kak Aldi. Semoga bisa na lalui.
SORE pada 13 Agustus 2026, setelah wawancara dengan beberapa narasumber di Makassar. Saya mengunjungi Aldi. Buyung bilang, ruangannya sudah berpindah ke Palem kamar 114.
Saya memandangnya. Kunjungan kedua ini, kami sudah tak saling berbagi tawa. Saya berjongkok dengan lutut di lantai di samping ranjangnya. Mengusap dadanya, membenarkan sarungnya. Mengelus kakinya.
Kak Nana, istri Aldi melayangkan senyum. Jelas sekali wajahnya telah ditimpa kelelahan. Saya tak berani membagi cerita padanya. Saya cuman menyalaminya dan sekali itu mencium tangannya. Tangan kuat yang telah membantu suami, ayah bagi anak-anaknya bertumbuh.
Lalu beberapa saat kemudian, Iere, anak sulung Aldi datang. Dia mendekat ke ayahnya dan menyampaikan dirinya telah datang. Awal, karib lainnya Aldi, meminta Iere, mendekatkan diri dan membisikkan suaranya ke telinga sang Ayah.
Sang Ayah menggoyangkan kepalnya dan membuka mulutnya dengan senyum lebar.
Iere, adalah anak perempuan Aldi. Tahun ini dia telah menjadi mahasiswa ekonomi di Universitas Negeri Makassar. Beberapa tahun lalu, ketika saya berjumpa dengan Aldi di Sengkak, dia meminta saya membubuhkan tanda tangan di buku Tragedi Halaman Belakang.
Aldi meminta saya menuliskan nama Iere. “Kau harus tahu tidak banyak temanku yang sudah punya buku. Saya mau itu anak anakku kelak juga bisa bangga, jika dia punya om penulis,” katanya.
Saya tersipu dan bergurau. Dan bilang, saya bukan apa-apa. “Kau tidak boleh merendah. Buku itu adalah buah kepala terbaik. Saya bangga sekali ada adek ku menulis buku dan ada om-nya anakku penulis,” lanjutnya.
Tak banyak orang-orang dekat, yang memberikan apresiasi pada tulisan-tulisanku. Atau reportase ku. Aldi menjadi salah seorangnya membuat ku bangga menjadi seorang jurnalis.
Di teras ruang perawatan Palem itu, Iere, duduk diantara para tante dan kolega ayahnya. Ini pertama kali saya bertemu dengan Iere. Anak perempuan yang punya senyum manis seperti Ayahnya. Dia seperti tak menduga, jika penulis buku yang dihadiahkan Ayahnya beberapa tahun lalu adalah saya.
“Iya itu waktu masih SMA. Saya belum mengerti, kalau pulang nanti mau baca,” katanya.
JUMAT 14 Agustus 2026, pukul 21.55, Buyung kembali mengirimkan kabar kondisi Aldi. Dua foto yang dikirim yang ditandai dengan sebagai pesan terusan, memperlihatkan orang-orang telah berkumpul mengelilingi ranjang Aldi.
Kak Nana menunduk menatap wajah suaminya seraya meletakkan telapak tangan kanannya di kepala sang suami. Tangan kirinya jelas terlihat tegak menopang dipinggiran ranjang rumah sakit.
Saya tak bisa menduga kekalutan dalam kepala Kak Nana. Dan foto itu mengingatkan ketika Mamak saya mendampingi Bapak sebelum meninggal dunia, dua tahun lalu di rumah sakit itu pula. Rasanya perih dan penuh sesak.
Foto kedua yang dikirimkan terlihat jelas ada Iere, mengangkat wajahnya memandang kamera.
Sabtu 15 Agustus 2026, sejak pagi saya sibuk mempersiapkan peralatan kemah pramuka anak di sebuah lapangan kampung. Hingga jelang magrib, saya baru meninggalkan lapangan.
Pada malamnya, saya mengirim pesan ke Buyung. “Bagaimana kabar kak Aldi kodong,” kataku.
“Tadi sy tinggalkan jelang magrib. Seperti tadi malam. Tapi skrg dinginmi kakinya. Tadi malam masih hangat. Kanker sdh masuk ke sel darah, hati, dan otak,” jawab Buyung.
Hatinya seperti beku. Pada Kamis, ketika saya mengunjunginya. Bersama Kak Buyung, juga ada Kak Adi Ngeng dan Kak Awal, kami membagi rokok di sudut gedung perawatan Palem itu. Tiga sahabat Aldi itu secara bergantian saling menguatkan dan mempersiapkan diri pada kemungkinan terburuk.
“Saya ini salah seorang yang mendirikan Edelweis (unit pencinta alam di Fakultas Sastra). Tapi Aldi juga yang bikin skenario pemecatanku. Itu belakangan baru saya tahu,” kata Kak Awal.
“Jadi saya masih marah. Tiba-tiba dia datang ke Palangga, ketuk pintu. Beraninya ini anak na masih marah ka, dia datang. Tapi begitumi Aldi, datang dengan senyum nda berdosanya,” lanjutnya.
“Jadi dulu itu, kalau kami berdebat bisa sampai marah. Baku lempar. Pernah saya emosi sekali, saking emosiku, saya patah itu kuas di depannya, terus kubantingkan di depannya, baru saya keluar. Kalau datangmi lagi nanti, siapa bisa marah lama sama itu Aldi.”
Kami tertawa bersama. Tapi membicarakan Aldi dengan kejahilannya tak akan pernah selesai. “Dulu waktu di CV Dewi, Aldi bilang ayo ke Panaikang (saat itu masih terminal sekarang sudah jadi mall Nipa),” giliran Kak Adi Ngeng yang bicara.
“Jadi kupikir ada kiriman dari Palopo. Tapi Aldi bilang jalan kaki maki, karena nda bisa dibonceng motor. Jadi jalan mi kami dari CV Dewi,”
“Sampai di Panaikang, na suruhka naik di Bus. Kubilang kenapa disini, na bilang Aldi, na suruhki menunggu disini. Terus penumpang naikmi, saya juga kaget,”
“Ehhh mana mi itu kiriman. Tunggu mi, na bilang sopir itu kiriman diambil di Daya i. Kupercaya mi. Pas sampai di Daya nda berhenti bus. Aldi bilang ini tiketmu e, kita ke Palopo. Jadi ke Palopo ka, pakai kaos. Dinginnya itu di bus sampai Palopo.”
Di Palopo, mereka nginap hingga sepekan di rumah Buyung. Giliran mau pulang ke Makassar, sudah tidak ada uang. “Jadi Buyung bilang, eh ayo ke SMA 1, ada acaranya Akki – try out pendaftaran. Jadi Buyung cari ketua OSIS minta uang pendaftaran untuk beli peralatan, sekitar Rp300 ribu kayaknya, itu mi kami pake lagi ke Makassar,”
“Urusannya mi dia Buyung sama Akki (sahabat lainnya).”
Dan malam minggu kemarin itu, saya pulang ke rumah dengan kelelahan. Tidur pulas. Lalu anak saya menelfon dari lapangan perkemahan pramuka, jika harus dibawakan baju olah raga.
Ketika bangun lalu menutup telfon. Saya mengingat Kak Aldi dan membuka pesan Whatsapp. Pesan dari Kak Buyung rupanya masuk pukul 01.49: Meninggal Aldi.
“Jenasah sudah di Bantaeng mi kak?,” kataku.
“Iye,” jawab Buyung.
“Sehat ki juga urus terakhir temanta,” sambungku.
Buyung membalasnya dengan mengirimkan dua telapak tangan bertemu seperti posisi berserah.
Lalu pukul 09.13 status Kak Awal sedang menuju rumah duka. Saya mengomentarinya dengan ucapan yang sama kepada Kak Buyung. Dan Kak Awal menjawabnya dengan stiker bertulis: Iyye dan Terimakasih.
Kepada Kak Adi Ngeng, saya tak mengiriminya pesan. Sebab WA-nya sedang rusak. Tapi saya tahu, tiga karib Kak Aldi sedang terpukul. Kuat lah kalian para kaka yang baik hati.
Subuh itu, saya menenangkan diri. Mendoakan semua yang terbaik untuk Kak Aldi. Damai lah kematianmu Kak. Kau telah kembali ke Bantaeng, ke tanah leluhurmu. Ke tanah yang mencintai mu tanpa henti-hentinya.
Terimakasih Kak Aldi telah menerima saya mengenalmu dalam satu sisi yang kecil. Maaf tak bisa mengantar dan mengangkat jenasahmu untuk yang terakhir kalinya. Saya akan mengenangmu dengan penuh seyuman.