Sabtu, Agustus 15, 2026

Kak Aldi; Seorang Pria Dengan Senyum Yang Memukau



PADA dinihari yang senyap, 16 Agustus 2026, pukul 01.23. Lelaki istimewa itu telah meninggal dunia dalam usia 52 tahun. Namanya Aldi Mulyadi. Lelaki yang bisa memainkan gitar. Lelaki yang punya tato burung elang di salah satu bahunya. Dia alumni Arkeologi Universitas Hasanuddin. Punya senyum yang khas karena gigi depannya tak beraturan. 

Dia lelaki yang manis. Yang pada masa kuliahnya memanjang rambut. Saat kunjungan kedua saya di RS Wahidin Sudirohusodo, tempatnya dirawat, itu tiga hari sebelum kematiannya, badannya benar-benar telah kurus. Kepalanya yang pelontos membuat wajahnya makin menampakkan semua tulang wajahnya. 

Selang yang terhubung dengan monitor menempel di bagian dada. Selang penyedot cairan yang menembus dinding dadanya menuju paru di bagian kirinya, juga masih belum terlepas. Tabung oksigen di bagian kiri dekat kepalanya terus bergelembung. Serta satu tambahan selang yang menrobos di salah satu lubang hidungnya sebagai asupan makanan.

Saya terpaku menyaksikannya. Ketika mendekat, saya buang suara dan meperkenalkan diri lalu mengusapnya. Dia tersenyum dan berbalik ke arahku. Saya memintanya istirahat dan memegangi tangan kirinya yang terhubung pula dengan selang infus. 

Saya tahu, tangan ini yang beberapa kali menawari rokok dan membayarkan kopi saat berjumpa. “Sekalipun saya tidak ada uang. Jangan juga biarkan kakakmu ini dibayarkan adeknya,” begitu katanya. 

Meski saya berkeras untuk mentraktirnya, dia tersenyum dan selalu marah. “Itu tommi nanti kau ingatkanka. Ada kakakmu yang miskin, tapi selalu ingin memberikan hal-hal kecil yang jadi daging dan darah dalam tubuh,” lanjutnya. 

Saya lupa tahun pertemuan, tapi itu di Bantaeng. Saya ingat, honor tulisanku sudah masuk ke reening. Saya buka mobile banking dan perlihatkan saldo, nilainya Rp2.000.000. Dan bilang; saya ada uang kak dan mau traktir. 

“Aiii ini dua kalinya saya bahagia begini. Pertama waktu Buyung jadi wartawan. Kau belikanma pade rokok, biar saya tetap yang bayar kopi,” katanya. 

Buyung adalah Buyung Maksum. Dia adalah sahabat karib Aldi sejak di Palopo. Lalu mereka tinggal bersama saat kuliah di perumahaan CV Dewi, Jalan Abdullah Daeng Sirua, dekat jembatan Racing Centre itu. 

Buyung adalah alumni STIKOM Fajar, angkatan 1996. Dia lah orang yang membentuk dan membimbing saya menjadi wartawan. Buyung masih sehat dan saban waktu terus mengunjungi Aldi di rumah sakit. Dari Buyung, saya mendapatkan kabar terbaru dan perkembangan dari Aldi. 

Pada 22 Juli 2026, saya mengirim pesan ke Buyung, sehari setelah saya mengunjungi Aldi. “Sakit apa kak Aldi,” kataku. 

“Agak berat sakitnya,” jawabnya. 

Saya menarik napas. Mengingat Aldi yang masih gembira dan bercerita. Dia bahkan menjelaskan bagaimana kondisinya dan memperlihatkan selang pembuangan cairan di dada kirinya itu. “Jadi itu banyak cairan di paru. Jadi perlu disedot,” katanya. 

“Waktu di sedot, seperti buka keran air. Hanya beberapa jam saja, ada 2 liter itu,” lanjutnya. 

“Cairan keluar agak enak bernapasnya.”

Kami saling menguatkan. Tempat Aldi dirawat itu ruangan kelas 1, perawatan Palem kamar 104. Saya mengenal ruang perawatan itu pada tiga tahun lalu. Itu nama gedung perawatan tempat bapak saya dirawat selama dua pekan. 

Bedanya, bapaknya saya berada di lantai dua, Aldi berada di lantai 1. 

Dan sejatinya, para pembesuk pasien dengan bahasa template, akan berucap: tetap semangat dan kuat. “Ini mi perlawanannya. Makanya bisa bertahan sampai disini,” kata Aldi. 

“Dapat tong mi giliran. Kan bergiliran ji semua orang,” lanjutnya. 

“Layaknya Homo Sapiens bertumbuh di kak,” kataku.

“Itu dia,” jawabnya. 

Sebentar saja kami berbagi kelakar. Lalu saya pamit pulang. 

Selanjutnya pada Rabu 12 Agustus 2026, pukul 21.37 Buyung mengirimkan video Aldi yang sedang sesak hebat. Saya memandangi video dan melihatnya sudah sangat kurus, jauh berbeda ketika kami masih membagi tawa. 

“Tolong diteruskan ke grup Arkeo. Mohon doanya. Kondisi Aldi skrg,” begitu pesan yang mengiringi video. 

Semalaman saya hampir tak tidur. Mendekatkan gawai di dekat telinga. Dan bahkan meletakkannya di bawah bantal. Saya membalas pesan itu; kodong Kak Aldi. Semoga bisa na lalui. 

SORE pada 13 Agustus 2026, setelah wawancara dengan beberapa narasumber di Makassar. Saya mengunjungi Aldi. Buyung bilang, ruangannya sudah berpindah ke Palem kamar 114. 

Saya memandangnya. Kunjungan kedua ini, kami sudah tak saling berbagi tawa. Saya berjongkok dengan lutut di lantai di samping ranjangnya. Mengusap dadanya, membenarkan sarungnya. Mengelus kakinya. 

Kak Nana, istri Aldi melayangkan senyum. Jelas sekali wajahnya telah ditimpa kelelahan. Saya tak berani membagi cerita padanya. Saya cuman menyalaminya dan sekali itu mencium tangannya. Tangan kuat yang telah membantu suami, ayah bagi anak-anaknya bertumbuh. 

Lalu beberapa saat kemudian, Iere, anak sulung Aldi datang. Dia mendekat ke ayahnya dan menyampaikan dirinya telah datang. Awal, karib lainnya Aldi, meminta Iere, mendekatkan diri dan membisikkan suaranya ke telinga sang Ayah. 

Sang Ayah menggoyangkan kepalnya dan membuka mulutnya dengan senyum lebar. 

Iere, adalah anak perempuan Aldi. Tahun ini dia telah menjadi mahasiswa ekonomi di Universitas Negeri Makassar. Beberapa tahun lalu, ketika saya berjumpa dengan Aldi di Sengkak, dia meminta saya membubuhkan tanda tangan di buku Tragedi Halaman Belakang. 

Aldi meminta saya menuliskan nama Iere. “Kau harus tahu tidak banyak temanku yang sudah punya buku. Saya mau itu anak anakku kelak juga bisa bangga, jika dia punya om penulis,” katanya. 

Saya tersipu dan bergurau. Dan bilang, saya bukan apa-apa. “Kau tidak boleh merendah. Buku itu adalah buah kepala terbaik. Saya bangga sekali ada adek ku menulis buku dan ada om-nya anakku penulis,” lanjutnya. 

Tak banyak orang-orang dekat, yang memberikan apresiasi pada tulisan-tulisanku. Atau reportase ku. Aldi menjadi salah seorangnya membuat ku bangga menjadi seorang jurnalis. 

Di teras ruang perawatan Palem itu, Iere, duduk diantara para tante dan kolega ayahnya. Ini pertama kali saya bertemu dengan Iere. Anak perempuan yang punya senyum manis seperti Ayahnya. Dia seperti tak menduga, jika penulis buku yang dihadiahkan Ayahnya beberapa tahun lalu adalah saya. 

“Iya itu waktu masih SMA. Saya belum mengerti, kalau pulang nanti mau baca,” katanya. 

JUMAT 14 Agustus 2026, pukul 21.55, Buyung kembali mengirimkan kabar kondisi Aldi. Dua foto yang dikirim yang ditandai dengan sebagai pesan terusan, memperlihatkan orang-orang telah berkumpul mengelilingi ranjang Aldi. 

Kak Nana menunduk menatap wajah suaminya seraya meletakkan telapak tangan kanannya di kepala sang suami. Tangan kirinya jelas terlihat tegak menopang dipinggiran ranjang rumah sakit. 

Saya tak bisa menduga kekalutan dalam kepala Kak Nana. Dan foto itu mengingatkan ketika Mamak saya mendampingi Bapak sebelum meninggal dunia, dua tahun lalu di rumah sakit itu pula. Rasanya perih dan penuh sesak. 

Foto kedua yang dikirimkan terlihat jelas ada Iere, mengangkat wajahnya memandang kamera. 

Sabtu 15 Agustus 2026, sejak pagi saya sibuk mempersiapkan peralatan kemah pramuka anak di sebuah lapangan kampung. Hingga jelang magrib, saya baru meninggalkan lapangan. 

Pada malamnya, saya mengirim pesan ke Buyung. “Bagaimana kabar kak Aldi kodong,” kataku. 

“Tadi sy tinggalkan jelang magrib. Seperti tadi malam. Tapi skrg dinginmi kakinya. Tadi malam masih hangat. Kanker sdh masuk ke sel darah, hati, dan otak,” jawab Buyung. 

Hatinya seperti beku. Pada Kamis, ketika saya mengunjunginya. Bersama Kak Buyung, juga ada Kak Adi Ngeng dan Kak Awal, kami membagi rokok di sudut gedung perawatan Palem itu. Tiga sahabat Aldi itu secara bergantian saling menguatkan dan mempersiapkan diri pada kemungkinan terburuk. 

“Saya ini salah seorang yang mendirikan Edelweis (unit pencinta alam di Fakultas Sastra). Tapi Aldi juga yang bikin skenario pemecatanku. Itu belakangan baru saya tahu,” kata Kak Awal. 

“Jadi saya masih marah. Tiba-tiba dia datang ke Palangga, ketuk pintu. Beraninya ini anak na masih marah ka, dia datang. Tapi begitumi Aldi, datang dengan senyum nda berdosanya,” lanjutnya. 

“Jadi dulu itu, kalau kami berdebat bisa sampai marah. Baku lempar. Pernah saya emosi sekali, saking emosiku, saya patah itu kuas di depannya, terus kubantingkan di depannya, baru saya keluar. Kalau datangmi lagi nanti, siapa bisa marah lama sama itu Aldi.” 

Kami tertawa bersama. Tapi membicarakan Aldi dengan kejahilannya tak akan pernah selesai. “Dulu waktu di CV Dewi, Aldi bilang ayo ke Panaikang (saat itu masih terminal sekarang sudah jadi mall Nipa),” giliran Kak Adi Ngeng yang bicara.  

“Jadi kupikir ada kiriman dari Palopo. Tapi Aldi bilang jalan kaki maki, karena nda bisa dibonceng motor. Jadi jalan mi kami dari CV Dewi,” 

“Sampai di Panaikang, na suruhka naik di Bus. Kubilang kenapa disini, na bilang Aldi, na suruhki menunggu disini. Terus penumpang naikmi, saya juga kaget,” 

“Ehhh mana mi itu kiriman. Tunggu mi, na bilang sopir itu kiriman diambil di Daya i. Kupercaya mi. Pas sampai di Daya nda berhenti bus. Aldi bilang ini tiketmu e, kita ke Palopo. Jadi ke Palopo ka, pakai kaos. Dinginnya itu di bus sampai Palopo.”

Di Palopo, mereka nginap hingga sepekan di rumah Buyung. Giliran mau pulang ke Makassar, sudah tidak ada uang. “Jadi Buyung bilang, eh ayo ke SMA 1, ada acaranya Akki – try out pendaftaran. Jadi Buyung cari ketua OSIS minta uang pendaftaran untuk beli peralatan, sekitar Rp300 ribu kayaknya, itu mi kami pake lagi ke Makassar,” 

“Urusannya mi dia Buyung sama Akki (sahabat lainnya).”

Dan malam minggu kemarin itu, saya pulang ke rumah dengan kelelahan. Tidur pulas. Lalu anak saya menelfon dari lapangan perkemahan pramuka, jika harus dibawakan baju olah raga. 

Ketika bangun lalu menutup telfon. Saya mengingat Kak Aldi dan membuka pesan Whatsapp. Pesan dari Kak Buyung rupanya masuk pukul 01.49: Meninggal Aldi. 

“Jenasah sudah di Bantaeng mi kak?,” kataku. 

“Iye,” jawab Buyung. 

“Sehat ki juga urus terakhir temanta,” sambungku. 

Buyung membalasnya dengan mengirimkan dua telapak tangan bertemu seperti posisi berserah.

Lalu pukul 09.13 status Kak Awal sedang menuju rumah duka. Saya mengomentarinya dengan ucapan yang sama kepada Kak Buyung. Dan Kak Awal menjawabnya dengan stiker bertulis: Iyye dan Terimakasih. 

Kepada Kak Adi Ngeng, saya tak mengiriminya pesan. Sebab WA-nya sedang rusak. Tapi saya tahu, tiga karib Kak Aldi sedang terpukul. Kuat lah kalian para kaka yang baik hati. 

Subuh itu, saya menenangkan diri. Mendoakan semua yang terbaik untuk Kak Aldi. Damai lah kematianmu Kak. Kau telah kembali ke Bantaeng, ke tanah leluhurmu. Ke tanah yang mencintai mu tanpa henti-hentinya. 

Terimakasih Kak Aldi telah menerima saya mengenalmu dalam satu sisi yang kecil. Maaf tak bisa mengantar dan mengangkat jenasahmu untuk yang terakhir kalinya. Saya akan mengenangmu dengan penuh seyuman. 



  

Minggu, Mei 24, 2026

Elang Mau Jadi Gitaris


Elang sedang melakukan persiapan untuk ujian pertamanya. 

SEBELAS tahun lalu, tepat 25 Mei 2015, itu jelang pukul 07.00 suaranya terdengar nyaring, dari celah ruangan operasi di RS Bersalin Restu, Makassar. Saya yang duduk di kursi panjang menunggu di depan ruangan bersama Mamak, saling menatap. Lalu mengucap syukur. 

Mamak memberi saya selamat, lalu kami saling memeluk. Saya berdiri lalu mengintip celah pintu dan melihat perawat berjalan dari balik ruangan lain. Saya juga ke kamar perawatan dan memberikan kabar ke Mamak Mertua, jika bayinya sudah lahir. Pun kami bersama-sama melafalkan kata syukur.

Ruangan operasi di RS Restu punya dua sekat. Sekat pertama sebagai ruang pemulihan dan dapat diakses oleh keluarga pasien. Sekat berikutnya adalah ruangan operasi dengan pintu yang selalu tertutup rapat, yang kadang disebut juga ruang tindakan dan hanya boleh diakses oleh para tenaga medis. 

Di luar ruangan saya gelisah juga senang. Duduk lalu berdiri, berjalan, lalu mengintip celah pintu. Berkali-kali saya mengulang adegan itu. Lalu akhirnya melihat seorang perawat menggendong bayi kecil itu. Kemudian masuk kembali ke ruangan tindakan. 

Lalu beberapa saat kemudian, perawat itu membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Bayi kecil itu sudah dibalut kain. Wajahnya merah dan bersih. Saya melihatnya dengan penuh ketakjuban. Perawat itu meminta saya membersihkan tangan. Mamak saya juga sekalian meminta saya ber-wudhu. 

Saya mengangkat bayi kecil yang belum punya nama itu, lalu sesuai tradisi Islam, memperdengarkannya azan di telinga kanan dan kamat di telinga kirinya. Tapi disela itu, saya memohonkan doa agar kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama mahluk di alam semesta ini. 

Sesaat kemudian, Tika – istri saya – akhirnya didorong keluar dari ruangan tindakan. Dia senyum dengan wajah legah dan bahagia. Saya memberinya selamat dan pelukan ucapan terimakasih karena kekuatannya. Badannya masih ditutupi selimut dan sarung, dan tangannya masih menempel selang infus. 

Mamak saya mengangkat bayi itu dan meletakkannya di antara lengan kanannya. Suasana pagi yang hangat dan gembira. 

Elang berpose di depan foto Masyarakat Papua yang terancam tergusur oleh proyek PSN.

KELAK
anak bayi itu kami beri nama La Wèllang Rawallangi. Laki-laki yang tegak memberi sinar hangat di bawah langit. 

Ketika dokter bilang semua keadaan telah membaik, kami mendorong Tika dan Bayi ke ruangan perawatan. Dan perawat sebelumnya telah memberikan saya plasenta – ari-ari – bayi dalam bungkusan kain. 

Di ruang perawatan, saya membersihkan ari-ari itu dengan pelan. Dua perempuan tua, mamak saya dan mamak mertua, bergantian membimbing cara membersihkannya. Ketika saya memegangnya, itu serupa daging empuk. Ketika air keran mengucur dan membasuh plasenta itu sisa darahnya mengalir di lantai kamar mandi. 

Pelan-pelan seperti membilas, pelasenta itu menampakkan bentuk. Saya kemudian mengagumi selaput tipis dimana di salah satu bagiannya sudah robek. Selaput itu serupa palstik penutup makanan, yang ketika air masuk menggelembung seperti balon. 

Saya mengangkatnya dan selaput tipis itu tidak robek. Mamak saya bilang, itu selaput yang membungkus bayi dalam kandungan. Benarkah demikian? Dan akhirnya saya benar-benar lupa menanyakan kembali ke perawat fungsi selaput itu. 

Saya cukup lama mengagumi selaput itu. Mengisi air, mengangkatnya, mengosongkannya kembali. “Jangan mi main-main, bersihkan mi cepat e,” kata Mamak saya.   

Setelah bersih, saya kembali membungkusnya dengan kain putih yang sudah dipersiapkan. Mengikatnya dengan kuat dan memasukkannya ke dalam guci tanah lalu menutupnya. Dari RS Restu, saya mengendarai motor membawanya ke Panaikang, rumah nenek Tika. Lalu menguburnya di depan rumah dekat pohon jambu. 

Tika, Werena, dan Elang bermain kereta di sebuah kawasan wisata di Malino.

Saya tak mengubur ari-ari itu di rumah kami di Batua Raya, karena itu adalah rumah kontakan yang bukan milik kami. Di Panaikang ketika mengubur ari-ari, saya menghadap kiblat dan menggunakan sarung. Lalu setelah itu masuk ke rumah tanpa bersuara dan berpura-pura tidur. 

Saya tak boleh bangun, sebelum seseorang membangunkan. Tante Anni – saudari mamak mertua saya – yang tinggal di rumah itu kemudian membangunkan. Lalu kemudian, kembali ke rumah sakit. 

Dalam perjalanan, saya merangkum segala kejadian dan proses kelahiran bayi kami itu. lalu tersenyum sendiri dan merasa bangga. Saya berhenti di jalan Pelita Raya dan membakar rokok, menghisapnya beberapa kali lalu melanjutkan perjalanan. 

Belakangan, kebiasaan atau tradisi ini saya maknai sebagai proses berterimakasih pada semua keadaan, pada semua hal yang membantu. Dan sungguh-sungguh menikmatinya. Dan Elang – panggilan anak kami ini – tentu saja perlu mengetahuinya. 

SEBELAS tahun lalu itu, seperti saja baru kemarin terjadi. Semua masih terekam dengan jelas di ingatan. Dan sebelas tahun lalu hari ini, tepat pada Senin 25 Mei 2026, seperti hari kelahirannya, Elang bangun lalu mandi. 

Dia telah menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dia sudah kelas 4. Dan dia juga telah memiliki adik perempuan bernama Werena Rawallangi berusia tiga tahun. Werena dalam bahasa kami di Luwu berarti berkah tuhan dibawah langit. 

Elang bersama Werena melihat ikan di kolam.



Setiap pagi, saya dan Tika selalu sibuk. Sebelum Elang bangun, kami sudah di dapur memasakkannya sarapan dan membuat bekal. Dia tak mau makan MBG. Alasannya jelas, nasi yang dibagikan dalam program pemerintah itu terlalu banyak. Sayurnya juga dipotong tak karuan dan itu menghilangkan selera makannya. Lauknya pun tak menggugah selera. 

Atau mungkin, dia selalu mendengar orang tua berdiskusi soal MBG itu. Entah lah. Tapi kami juga tak ingin mengambil resiko, jika Elang tak mau makan MBG, itu pilihannya. Dan tentu saja kami mengetahui persis kebersihan makanan yang kami siapkan untuknya setiap pagi. 

Pada Sabtu, 23 Mei 2025, saat mengantarnya ke sekolah dia tiba-tiba berucap. “Kalau MBG itu, kira-kira bersih ji semua makanannya kah. Atau bagaimana?,” katanya. 

“Elang coba saja kalau mau,” 

“Tidak mau. Kalau saya sakit perut atau rasanya tidak enak, pasti kecewa,” 

Saya diam. Memastikan makanan itu sehat dan bersih bagaimana? Selama ini, akses untuk melihat dapur itu agak sulit dijangkau masyarakat umum, atau orang tua siswa. Di Sulsel, ada puluhan dapur MBG yang ditutup karena tidak sesuai standar kelayakan kebersihan. 

Tapi tentu saja saya tak pernah percaya sepenuhnya mengenai evaluasi itu. Pengalaman saya sebagai wartawan telah melihat banyak hal yang mengecewakan. Dari mulai kesehatan warga di sekitaran pabrik nikel Bantaeng sungguh mencengangkan, padahal dokumen AMDAL mensyaratkan semua terjalin dengan baik dan sehat. Penggusuran lahan di banyak tempat. Aturan sempadan sungai yang dilanggar. Aturan membangun rumah di perkotaan mengenai fasilitas sosial juga diabaikan. Kecelakaan kerja di Morowali yang standarnya mengenai K3 juga jelas, tetap tak dipedulikan. 

Jadi betapa rumit percaya kebaikan versi negara ini!

Cerita soal MBG telah berlalu dan kami telah melewati setengah perjalanan menuju sekolah Elang. Dia kembali ke bahasan lain. “Bapak sepertinya bakat saya menjadi pelukis tidak terlalu baik,” katanya. 

“Kenapa? Lukisan Elang teman-teman Bapak banyak yang suka dan katanya, lukisannya sudah punya karakter,” kata saya. 

“Tapi saya merasa kurang,” lanjutnya. 

“Jadi,” 

“Kayaknya, kalau pikir-pikir, cita-cita ku sekarang adalah ingin menjadi gitaris. Saya lebih suka itu,”

“Oke. Itu juga keren,” 

“Iya, karena saya selalu senang kalau main gitar,” 

“Apapun Elang mau. Yang penting dua profesi itu tak boleh jadi cita-cita kan,” 

“Oh iya, saya tahu. Dan siapa juga mau jadi …..”

Sudah setahun ini, Elang mengambil les gitar klasik. Kami mengantarnya dan dia penuh semangat menjalani. Dia pun rajin menjelajahi internet untuk melihat aksi para gitaris dunia. Di kepalanya menjadi seperti Paul Gilbert gitaris Mr.Big adalah targetnya. 

Minggu 24 Mei 2026, di teras rumah saya membuka Youtube untuk mengenalkannya The Beatles. Saya memutarkan video Paul Mc. Cartney sedang memainkan solo gitar. Elang melihatnya dengan semangat. Meski dia tak begitu senang lagu The Beatles. 

“Nah ini oke sih. Ini gitarisnya pasti lebih terkenal dari The Beatles.” 

Saya tertawa.

MENJELANG SORE sebelas tahun lalu itu, Serang Dakko mengunjungi kami di RS Restu. Kami saling memeluk dan bilang kalau cucunya sudah lahir, seorang anak laki-laki. Dia tertawa. “Apa kubilang, kau yang bikin, tapi saya yang tahu kalau anaknya anakku itu laki-laki,” katanya. 

Serang Dakko, selalu menyebut nama Tika kepada saya dengan Anakku. Saya ingat benar, ketika usia kandungan Tika menjelang masuk 3 bulan. Di kediamannya di area Benteng Somba Opu, Serang Dakko memegang perut Tika. Lalu bilang ke saya, jika anak kami kelak laki-laki. 

Saya bercanda, kalau saya yang tahu. “Kau datang gere leherku kalau anakmu bukan laki-laki,” lanjutnya. 

Akhirnya Serang Dakko menyapa Anaknya. Lalu kemudian dia beralih ke bayi Elang dan mengangkatnya dengan hati-hati. Selanjutnya, kami terperangah, kaena dengan suara keras dia bernyanyi royong dengan bahasa Makassar. 

Syahdu sekali. Mamak saya dan Mamak mertua melihat menoleh ke saya. Tapi saya tersenyum. Keluarga saya dan Tika adalah generasi dari Luwu, Jawa, dan Enrekang. Kami tak punya silsilah dari Makassar dan tak mengerti bahasa Makassar. 

Tapi Serang Dakko telah memulainya dan nyanyian pertama Elang dari bahasa Makassar, dari suaranya. 

Royong adalah tradisi lisan orang Makassar. Liriknya bisa berupa puisi dan doa-doa sakral yang dilantunkan orang tua. “Saya royongkan anakmu itu doa-doa yang baik. Biar berani dan kuat,” kata Serang Dakko. 

Sebelum dia berpamitan pulang, Serang Dakko lalu kembali berucap. Jika dia sudah menyiapkan kayu bulat dibuat gendang untuk bayi Elang. Nanti kalau dia sudah bisa, katanya, kau bawa ke rumah dan ambil gendannya. 

Kami selanjutnya saling berpelukan sebelum dia pamit. “Kau jaga baik-baik anakmu Nak e,” katanya. 

Hadiah lukisan untuk Elang dari Zaenal Beta. 
 
Pada sore beberapa jam berikutnya, kini giliran Zaenal Beta mengunjungi kami. Kak Enal, begitu saya dan Tika menyapanya dengan mengayuh sepeda dari Benteng Rotterdam ke RS Restu. Jaraknya tak begitu jauh dan memang bisa menjadi rute pulangnya ke rumah. 

Kak Enal membawa sebuah bingkisan dengan bingkai dengan bungkus kertas. Sebuah lukisan dari tanah liat yang menawan. Menampilkan rumah panggung, dan seseorang di depan rumah di dekat depan sumur. Di sisi rumah itu ada beberapa pohon, lukisan itu menggambarkan suasana hijau. 

“Saya gambar tadi pagi, waktu kau kabari anakmu lahir,” kata Enal.

“Wah terimakasih kak,” kata saya. 

“Ini tanah dari Luwu dan ada tanah dari Makassar. Saya campur.”

Saya diam melihat hadiah lukisan itu. Dan sekarang kami memajangnya di rumah dengan penuh kebanggaan. 

Senin, April 20, 2026

Bapaknya Cappa Meninggal; Banyak Doa, Banyak Pintu Maaf

Jenasah Bapak Cappa menuju tempat pemakaman umum di Kampung Tamero'do. Foto; Iqbal Lubis

Rabu 23 Januari 2026, pukul 11.32 kabar duka masuk melalui pesan Whatsapp. “Kakk, meninggal bapaknya Cappa.” 

Saya tersentak. Bulu badanku berdiri. Seketika seluruh tubuh menjadi kaku sesaat. Menarik nafas, lalu berucap ke Tika, istri saya. “Tika, Bapaknya Cappa meninggal. Baru saja,” kataku. 

“Haaaa….,” jawab Tika. 

Kami kemudian berkabar ke beberapa kawan yang mengenal Cappa. Tapi Cappa sedang berada di Bandung mengikuti kegiatan dari tempatnya bekerja. Saya tak tak menghubungi Cappa, karena sedang meraba-raba kekalutannya. Maka melalui Utty - pacar Cappa – saya menanyakan beberapa hal detail. 

Utty bilang, Cappa sudah keluar keluar dari kegiatan dan berusaha mencari tiket pesawat tercepat. 

Tapi pesawat tercepat menuju Makassar berada di pukul 17.00 melalui Jakarta. Sesaat kemudian, Utty bilang, Cappa sudah menuju terminal dan mencari bus menuju Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. 

Beberapa jam kemudian, saya mengabari Cappa, jika kami menunggunya untuk bisa bersama ke kampung. Dia setuju. Cappa tinggal di Punaga, Desa Seppong, Kecamatan Tammero’do, Kabupaten Majene. Jarak tempuh dari Makassar sekitar 7 jam melalui akses darat. 

Sekitar pukul 21.00 pesawat Cappa mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya, Tika, dua anak saya, Iqbal, Nopri, dan Utty sudah menunggunya di Bandara. Sesaat kemudian Cappa menelpon di depan pintu utama kedatangan. Saya mengangkat tangan dan melambai agar dia bisa melihat kami. 

Dia berjalan dengan pelan dan kemudian memasang topi petnya. Jalannya pelan. Tidak ada senyum. Matanya bengkang dan sembab. Bergantian kami memeluknya dan tangisnya pecah. Lelaki dengan zodiac Scorpion itu tak bisa lagi menjaga marwah cool-nya. 

Perjalanan panjang kami mulai. Di mobil kami mengerjai Nopri – sahabat Cappa -  yang juga menjadi sahabat kami. 

Nopri dan Cappa sudah berkenalan sejak kuliah. Mereka sohib yang sama-sama soft spoken. Dalam kisah mereka berdua, beberapa kali menuju warung kopi, merokok, menghabiskan kopi, tanpa cerita, atau hanya berbalas senyum kecil. “Aneh juga pertemanan kami,” kata Nopri. 

“Tapi kami memang bicaranya dengan telepati, hahahah,” 

Nopri lelaki yang tingginya sekitar 175 cm itu, adalah pria tampan. Tapi sedang tak punya pacar. Dia jomblo yang beberapa kali ditinggalkan perempuan. Urusan percintaan dialah yang menjadi candaan kami sepanjang perjalanan. 

Cappa kadang mengeluarkan celutuknya atau tertawa pelan. Tapi Iqbal – fotografer paling borro sejagat raya, juga menjadi pelipurnya. Dia membagi cerita soal leluhurnya yang tidak memakan tahu. Atau cara memakan buah salak tanpa membuang kulit tipisnya karena itu; dia menyebutnya sebagai selaput energi. 

Sepanjang jalan kami tertawa. Sepanjang jalan kami terjaga. 

Lalu Cappa yang sedang kelelahan jiwa dan raganya, tertidur pula. Saya bisa merasakan bagaimana kehilangan orang tua. Dua tahun lalu, bapak saya meninggal karena mengidap Leukimia. 

Ketika kami memasuki kampung Wonomulyo, saya beranggapan kalau itu adalah Polman. Iqbal bilang kalau Wonomulyo sudah lewat. Tiba-tiba di bangku depan Cappa nyeletuk, kalau ini Wonomulyo. Kampung yang begitu banyak deretan penjual warung makan sari laut. 

Kata Iqbal, saya cocok tinggal di Wonomulyo, karena nama Jawa saja. Buka rumah makan dengan nama Warung Mas Eko. Ajaib sekali. Tapi itu juga tak keliru, mamak saya memang orang Nganjuk, Jawa Timur. Bapak saya orang Luwu. Saat ini mamak saya juga di kampung menjual gado-gado, yang nama warungnya, Gado-gado Mamak Eko. Laris. Karena gado-gado terbaik memang lahir dari tangan piwai orang-orang Jawa. Itu sama dengan Kapurung, yang lahir dari racikan tangan orang Luwu. 

Cappa yang sudah mulai terjaga kemudian menyebut nama kampung yang kami lewati. Salah satunya adalah Campalagian sebelum masuk ke pusat Kabupaten Majene. 

Ketika kami masuk gerbang Majene, lalu berhenti di depan Bank BRI, Cappa mengambil beberapa uang tunai. Di depan gerbang BRI kami menunggu dan masing-masing sebatang rokok untuk meredakan ketegangan. 

Iqbal yang beberapa hari sebelumnya sudah melakukan CT-Scan medis, mendapati dirinya dengan diagnosa stroke. Sesumbar bilang tak akan merokok lagi. Tapi dia melemah, mungkin satu batang bisa. Maka akhirnya, dia menghisap satu batang rokok bersama kami. 

CAPPA adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Cappa saat ini berusia 31 tahun. Adik keduanya adalah Fahmi. Kemudian Fikri. Tiga lelaki dewasa itu kelak akan menjadikan bahu mereka sekuat bapaknya. 

Sebentar lagi pukul 04.00. Dari arah Majene kami berbelok kanan menapaki jalan beton. Pelan-pelan. Semua terjaga, kecuali dua anak saya; Elang dan Werena. 

Mobil telah mendekat di depan rumah Cappa. Beberapa kerabatnya telah begadang dan menunggu kami terlihat jelas dan berdiri. Ketika mobil mulai begitu melambat, Cappa hendak membuka pintu. Saya menahannya. 

Saya memintanya untuk menahan diri. Bersama, kami memintanya menguatkan diri. Dia sudah memasang topi pet-nya kembali. Ketika mobil benar-benar berhenti, kami memintanya turun. Saya masih sempat berucap; kalau mau menangis, mengangis saja. Jangan sok kuat. 

Entah Cappa dengar atau tidak. Lalu satu persatu dari kami turun dari mobil. Saya masuk ke rumahnya. Cappa sudah memeluk Mamaknya. Adik-adiknya ada di sekitaran jenasah. 

Itu pemandangan yang memilukan. Kata-kata tak akan mampu mengangkap suasana subuh itu. 

Saya mendekat ke jenasah. Nopri, Tika, Iqbal, dan Utty, juga duduk di dekat jenasah. Dan seperti kebiasaan, saya membuka penutup wajah jenasah. Lalu melihat wajah sudah membeku pucat itu. Dingin dan kaku.

Terbayang jelas, ketika Bapak Cappa masih hidup dan beberapa kali mengunjunginya. Dia pria yang hangat dengan otot tangan kuat. Pekerja keras dan seorang petani. Bapak Cappa senang bercanda, tapi tawanya tak pernah lepas, sepanjang ingatanku. 

Menjelang pagi, orang-orang kampung sudah berkumpul. Papan penutup jenasah dibawah liang lahat dikerjakan dengan banyak tangan. Di belakang rumah, para lelaki memasak menggunakan kayu bakar. Mereka semua saling bercanda dalam bahasa setempat, lalu terbahak bersama. 

Lalu tiba lah jenasah akan dimandikan dalam prosesi islam. Liang lahat sudah beberapa jam lalu telah siap. Orang-orang di depan rumah, menunggu prosesi itu sambil melepaskan cerita dan kenangan bersama orang yang meninggal. 

Bagi saya inilah suasana yang penuh kekeluargaan. Suasana yang selalu dan setiap waktu bila menjumpainya selalu membuat saya merinding. 

Ketika jenasah sudah dibalut kain kafan, keluarga terdekat mendekatinya dengan penuh kekuatan dan ketabahan, lalu bersama jenasah itu diangkat ke keranda. Pelepasan jenasah dimulai dan kemudian keranda di gotong ke masjid terdekat untuk kemudian di salat kan lalu diantarkan ke pemakaman. 

Saya selalu ikut mengangkat keranda, jika tak bisa mengangkat tubuh jenasah. Bagi saya ini adalah ritual yang selalu mengingatkan, jika kehidupan dan kekeluargaan adalah jalan terbaik dalam menjalani hidup di muka bumi ini. 

Tempat pemakaman di kampung Cappa, berada di sebuah punggungan kecil. Dan untuk menjangkaunya harus melewati sungai. Liang lahat Bapak Cappa, ditempatkan dipinggiran punggungan menghadap langsung ke sungai dan kampung. 
Ketika keranda sudah diturunkan. Jenasah kemudian diangkat ke liang. Jenasah yang dibalut kain kafan itu, perlahan diturunkan, dimana tiga orang berdiri dibawah liang lahat menjangkaunya dengan tangan. 

Suara-suara keluar dengan begitu taktis; pelan-pelan. Buka ikatan kainnya. Miringkan jenasah menghadap tanah. 

Orang-orang yang mengantar jenasah yang berada di sekitaran liang, mecoba menunduk untuk melihatnya. Lalu semua berakhir. Liang lahat itu kemudian ditutup kembali dengan tanah. Maka; benarlah, semua kembali ke tanah pada akhirnya. 

Tapi, sehari sebelumnya pemakaman, hujan mengguyur Tammero’do. Tanah di pemakaman basah dan lengket. Ketika proses penguburan saya membantu beberapa orang mengangkat papan atau patok yang digunakan untuk menahan sisa tanah galian. 

Nopri, yang terus berada di dekat liang lahat mencoba membantu. Ketika orang-orang mulai kelelahan mencangkul dan mengangkat tanah timbunan ke liang lahat dengan sekop, dia berinisiatif untuk mengganti. 

Tentu saja, Nopri sepertinya tak punya banyak pengalaman membantu prosesi pemakaman dengan tanah penguburan seperti itu. Nopri adalah orang Toraja, yang kebanyakan pemakaman dilakukan di dalam patane atau goa dan dimasukkan dalam peti. Nopri adalah orang Kristen. 

Saya tersenyum melihat Nopri memegang sekop atau menggantinya dengan cangkul. Dan benar saja, beberapa kali dia melakukannya, badannya menjadi loyo dan gemetar. “Penghilatanku jadi hitam. Makanya saya duduk,” katanya. 

“Jadi saya pikir, ai, pingsan ma ini. Lama sekali ka itu perbaiki perasaanku,” lanjutnya. 

Tapi setelah penguburan usai, prosesi terakhir adalah berdoa bersama yang dipimpin seorang pemuka agama untuk keselamatan Bapak Cappa. Setelah itu perlahan orang-orang meninggalkan pemakaman. 

Tapi doa-doa sendiri dari masing-masing orang akan dilakukan. Nopri terlihat khusuk juga menunduk. Apakah dia berdoa atau merenung. Iqbal bilang; Kau baca doa apa tadi Nopri, baca apa? 

“Pasti bertabrakan doa ini,” kata Iqbal. 

Nopri tertawa. Kami yang mendengarkan ikut nimbrung; “Jadi nanti kalau malaikat sudah datang ke Bapaknya Cappa, dia akan membagikan ucapan do aitu. Nah tiba-tiba ada satu doa kritsten yang masuk. Pasti kaget malaikat,” 

“Tapi banyak doa, banyak pintu. Dan itu menandakan almarhum orang yang baik.” 
Pada kalimat terakhir itu, di depan rumah menjelang sore, semua orang tersenyum. Dan sepertinya kami telah sepakat. 

Kamis, Desember 04, 2025

Elang, Karya dan Kepalanya


Pencemaran Laut. @Elang

Suatu waktu, Elang begitu sapaan anak lelaki itu, mengatakan keinginannya untuk belajar melukis. Saya tentu senang. Dan seorang kawan mengarahkannya. Dia belajar membuat lingkaran, membuat gambar bintang dan menarik garis lurus. 

Pertemuan singkat sekitar empat kali itu, dilakukannya di teras rumah. Elang telaten dan teman itu juga penuh sabar. Kertas-kertas HVS putih berlembar-lembar jadi tempat latihannya. Kemudian, teman itu berpindah tempat, kami menjadi putus komunikasi. 

Tapi Elang tetap menggambar. Dia ingat betul pesan gurunya; gambarlah sesuai imajinasi dan apa yang kau pikirkan. Jangan contoh gambar orang lain. 

Sederhana, tapi itu menjadi rumit dilakukan. Elang yang saban hari senang menonton anime, rupanya terpengaruh dengan visual pilem dari Jepang itu. Tapi perkataan guru harus selalu diingat. Nama gurunya adalah Bang Ken – entah siapa nama aslinya, kami menyapanya demikian. 

Elang telah menggambar. Membeli buku gambar, kanvas, pensil, krayon, cat air hingga cat minyak. Dia menantang dirinya untuk menggunakan cat air, karena dalam pencariannya itu teknik yang tinggi. Perkembangannya cukup baik menurutku. 

Kini, dia sudah memiliki alasan dengan warnanya sendiri, bukan lagi karena indah dan menarik. 

Suatu kali, dia membuat sketsa di kanvasnya yang menampilkan deretan rumah dan gedung tinggi berdempetan. Gambar itu lalu ditimpanya dengan cat air biru tipis, tapi masih memperlihatkan gambar gedung. 

Warna Lembut @Elang
Saya menerka-nerka alasannya, apakah untuk menunjukkan kedamaian. Dia jawab singkat; Bukan. “Warna biru biar kelihatan lembut dan soft saja,” katanya. 

Kenapa biru itu jadi lembut? “Ya karena mata, bisa tenang lihat warna itu. Coba mi lihat," lanjutnya. 

Saya mafhum. Kini dia memilih dan membuat alasan melakukannya, lalu mempertahankannya. Tapi bukan kah  memang demikian; imajinasi dan ide adalah urusan personal. Toh, pilihan takselalu harus mempertimbangkan penerimaan orang lain.

Lalu, deretan karya lainnya, yang bagi saya memukau adalah sketsa tentang suasana pabrik dengan cerobongnya yang mengeluarkan asap memenuhi langit.Di gambar itu dituliskan kalimat, KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN POLUSI

Ungkapan itu didapatkannya saat ikut pagelaran Makassar International Writer Festival (MIWF) di Makassar, tahun 2025. Dia memasuki instalasi  yang menampilkan pekerja smelter dan lingkungan di sekitar pabrik nikel Bantaeng. 

Ini bukan hal baru bagi Elang. Beberapa kali saya membawanya ketika melakukan liputan. Dari mulai penangkapan petani di Soppeng, sampai kondisi lingkungan di sekitar pabrik pemurnian nikel di Bantaeng yang berantakan itu. 

Saya ingat betul, ketika saya mengajak Elang berkeliling di kampung Papan Loe dan Parang Tinggia, di sekitar Kawasan Industri Bantaeng (KIBA). Elang selalu menoleh ke jendela mobil. Dia menyaksikan debu dan rumah-rumah warga berubah warna menjadi coklat. “Kenapa perusahaan ini datang dan buat semua jadi kacau begini,” komentarnya. 

“Karena orang perusahaan tidak perduli warga. Mereka rakus,” jawabku. 

Elang masih menimbang-nimbang pernyataan itu dan terdiam menatap keadaan kampung. “Dan Pemerintah juga tidak perduli warganya,” lanjutku. 

“Kan ada Bupatinya. Bupatinya juga diam?,” 

“Bupati lah yang mulai panggil perusahaan datang. Dulu bupati namanya Nurdin Abdullah, sekarang anaknya, jadi bupati, namanya Uji  - entah siapa nama lengkapnya,” 

“Ahh semua Bupati memang sama. Bupati Maros juga. Saya benci sekali dengan  Bupati,” 

“Eh, Elang nanti jangan jadi Bupati nah,”

“Siapa juga yang mau!” 

Solusi bukan Polusi. @Elang

PADA GAMBAR LAIN, Elang menampilkan deretan gedung tinggi berwarna hitam, dengan latar belakang langit kemerahan. Di bagian depanya, ada lautan yang tenang. Sekelebat, saya menerkanya sebagai suana sunset di kota. "Bukan. Masa sunset begini," jawabnya. 

Dia bilang, orang-orang yang berada dalam gedung membuat pipa saluran pipa pembuangannya di dalam tanah, yang berakhir ke laut. Jadi lautnya dari atas bagus berwarna biru, tapi dibawahnya sudah rusak. Langit merah itu seperti darah, kematian. Saya spontan bilang; widihhhhh...

Elang, suka menggerutu dengan pikirannya sendiri. Anak ini rupanya sungguh rajin membuat kepalanya terus sibuk. 

Dan pada hal lain, saya merasa menjadi orang tua ketinggalan pengetahuan. Waktu itu, mengirimkan link mengenai awal mula pembentukan daratan di bumi. Di pesan WhatsApp dia menulis; jika puluhan juta tahun yang lalu, Kepulauan Indonesia masih kecil dan belum terbentuk. Terus Philipina dan Thailand itu, jaraknya dekat sekali. 

Saya melongo membaca chatnya. Saya jawab; jika tak tahu soal ini. Tapi nanti coba akan dicari tahu bersama. 

Elang punya minat terhadap lapisan bumi. Dia senang mengumpulkan batuan yang menurutnya menarik. Batuan-batuan kecil yang didapatkannya di jalanan,  dibawahnya pulang ke rumah dan disimpannya di kotak khusus batu. Dia bilang, kalau batunya ada yang berbentuk dinosaurus, ada yang menyerupai burung, atau menyerupai apa saja dalam imajinasinya. 

Maka begitulah, jika saya liputan ke luar daerah, oleh-olehnya adalah batuan dari tempat itu. Yang terbaru, saya menghadiahkannya batuan dari sungai Karama, di Sulawesi Barat. Sebuah tempat yang memiliki kisah panjang sejarah peradaban manusia. Satu tempat bermula leluhur penutur Austronesia dari ras Mongoloid, yang dalam buku dituliskannya sebagai masa Neolitik. 

Dan neolitik Kalumpang adalah yang paling tua di Nusantara, sekitar 3.800 tahun yang lalu. 

Lalu keberuntungan lainnya, saat dari Kalumpang, Kak Erlang - kaka senior saya di Arkeologi -  menugaskan untuk membawa koleksi artefak Kalumpang ke kantor BRIN - Balai Arkeologi Makassar. 

Artefak itu, ditempatkan dalam kotak plastik dan dibungkus plastik. Isinya adalah kapak dengan batu hijau yang halus dan memukau. Saya perlihatkan ke Elang sebelum mengembalikannya. Dia pegang dan mengaguminya. “Ini batu kah,” katanya. 

“Iya. Alat batu yang dibuat ribuan tahun lalu,” 

“Wahhh…Halus sekali. Dan tajam.” 

Lalu saya ceritakan  bagaimana suasana kampung Kalumpang saat ini. Dimana, akses jalan sangat buruk dan tidak diperdulikan Pemerintah. “Kenapa. Pemerintah tidak suka sejarah,” 

“Mungkin. Atau mereka tidak mau belajar. Dan bodoh kali ya,” 

“Iya, mungkin.”

Kini Elang sudah kelas 4 Sekolah Dasar. Dia menikmati sekolahnya dan membuat kami harus bangun lebih pagi, karena menyiapkannya bekal. Dia tak mau makan bekal dari MBG – program pemerintah itu. Alasannya sederhana, makanannya tidak dimasak dan diolah dengan baik. Sayurnya dipotong serampangan, ayamnya kecil, nasinya banyak sekali. 

Tapi beberapa kali saya memintanya untuk mencoba. Tapi dia hanya bilang, tidak enak. Mungkin, dia pernah mencicipinya. 

Maka tahu kau nak, kenapa kami memilih untuk memasukkanmu ke Sekolah Negeri? Supaya kau menyadari bagaimana Negara ini berjalan. Dan bagaimana buruknya Negara memperlakukan anak dan warganya sendiri.     


Matahari dan Tanaman. @Elang


Senin, Desember 01, 2025

Mempertanyakan Kembali Warisan Kata

Beberapa daun sirih dan pinang dipersiapkan untuk upacara Aluk Todolo Masyarakat Toraja, unutk meminta berkat sebelum penggantian atap Tongkonan. (Project M/Iqbal Lubis)


Pada suatu perjalanan ke Papua saya mengunjungi Biak – penulisan Indonesia. Di pulau terpisah dari Papua Besar itu, saya bertemu dengan banyak orang. Mendengar mereka bercerita dan berkisah. Satu tempat yang bersih dan nyaman, yang tanahnya dekat lapangan terbang itu dikuasai banyak oleh Angkatan Udara. 

Orang-orang di pulau bercerita dan melafalkan nama kampungnya. Saya berkali-kali mendengarnya dengan saksama. Dan menemukan pelafalan nama kampung yang berbeda dengan ejaan Indonesia. Orang-orang  melafalkannya dengan kata Biyak. Menggunakan huruf “Y” di tengah. Bukan Biak, tanpa huruf Y. 

Bagi mereka, kata Biak yang sekarang menjadi ejaan, akan dibaca seperti bi-ak. Itu tidak memiliki arti dalam bahasa lokal. 

Hal sama juga terjadi di Fak-fak – untuk ejaan Indonesia. Orang-orang di sana melafalkannya dengan lurus, tanpa tanda sambung. Mereka melafalkannya dengan kata Fakfak. 

Fakfak tanpa tanda sambung itu berarti sebuah tempat, yang lapang yang pernah dijadikan medan perang dan membuat perjanjian. “Jadi kalau Fak-fak, pakai garis datar itu, tidak ada. Kami tidak tahu artinya,” kata beberapa orang disana. 

Bukan hanya itu, di Sulawesi Selatan, ejaan tempat juga banyak bersoal. Kota Pare-pare, yang pada masa lalu ditulisnya sebagai Pare2. Padahal ejaan dalam pelafalannya adalah Parepare tanpa tanda sambung. 

Pada pertengahan November 2025, saya juga mengunjungi kampung Kalumpang – dengan ejaan Indonesia. Kampung ini berada di Sulawesi Barat. Kampung yang dikenal sebagai tempat peradaban awal periode neolitik tertua di Indonesia pada sekitar 3.800 tahun yang lalu. 

Kalumpang, seharusnya adalah nama sebuah pohon. Tapi orang-orang kampung itu menyebutnya sebagai Kaluppang. Jadi jika merujuk pada ejaan Indonesia, Kalumpang tidak memiliki arti. Yang benar adalah Kaluppang. 

Peng-Indonesia-an itu adalah sesuatu yang pelik dan rumit. Mengubah nama pada sesuatu yang salah dalam ejaan pasti akan mengaburkan banyak hal. Jika seseorang misalkan menuliskan nama saya menjadi Ekko dengan dua huruf K, maka otomatis itu bukan saya. Maka saya bisa dengan serta merta bisa berkilah dan beragumen untuk bisa lepas tangan pada apa yang saya sampaikan. 

Menyederhanakan banyak hal
Bukan hanya soal nama tempat. Para petualang, “berpendidikan” masa lalu juga melakukan banyak hal bias. Sebagai seorang yang besar dalam lingkungan sosial dan budaya di Luwu, saya menyadari betul jika kata “budak” dalam mendefinisikan ungkapan “ata’” di masyarakat Luwu, sangatlah keliru. 

Ata’ – dengan tanda koma atas – bukan lah budak seperti yang dikenal saat ini. Ata’ bukan lah Slave dalam bahasa Inggris itu. Tapi ata’ merujuk pada kepatuhan sosial. Saya akan mengambil contoh keadaan di kampung saya di Luwu. 

Jika saya punya anak, lalu ada keluarga saya, baik para tante dan om, berkumpul di rumah. Kemudian anak saya yang remaja, berjalan di depan para orang tua, tanpa permisi dan menurunkan tangan tanpa mengucapkan kata tabe’, maka itu menjadi sesuatu yang kurang pantas dalam adat istiadat. 

Maka saya akan berucap pada orang tua di sekitar situ, dengan mengucapkan; ta addampangi ata’ ta. Yang berarti, tolong maafkan ketidak sopanan ponakanmu. 

Pada peristiwa lainnya, ata’ bisa diartikan pada sebuah kekalahan. Misalkan ketika seseorang berduel dan lawannya akan kalah, maka dia menyebut dirinya ata’ sebagai orang yang kalah dan tak akan melawan kembali. Tapi bukan budak. 

Definisi lainnya yang menurut saya juga keliru adalah pengungkapan kata Toraja untuk menyebutkan wilayah gunung di sekitar pegunungan Latimojong. Definisi para penulis kolonial awal ini, membuat garis imajiner untuk memisahkan orang yang berada di pesisir dan pegunungan. 

Hingga tahun 1980-an awal, orang Seko masih didefinisikan sebagai bagian dari Toraja sebagai sebuah entitas suku. Kaluppang juga menjadi bagian Toraja. Mamasa bahkan menyebut diri mereka Toraja Mamasa. 

Daerah lain di Luwu, adalah Basse Sang Tempe atau Bastem, juga digolongkan sebagai Toraja. Padahal dalam ungkapan lain, Toraja dalam pengertian bahasa pesisir adalah To Riaja – orang yang berada di bagian atas. 

Maka, dampaknya menjadi sungguh serius. Beberapa kali ketika saya melakukan tugas reportase, egoisme ini muncul dalam kisah tutur. “Dulu itu adalah wilayah kami, sebelum ada pemekaran kabupaten,” 

“Jadi dulu, semuanya adalah (menyebut tempat), nanti ada Indonesia, baru dibagi-bagi secara geografis.” 

Atas dasar inilah, saya acapkali menuliskan nama kampung dalam naskah-nasah liputan. Kampung bagi saya adalah nama yang memiliki nuansa dan kehidupan yang kompleks. Nama kampung Pangngala, misalkan, yang sekarang masuk Kabupaten Toraja Utara, adalah nama yang sungguh sangat anggun. Nama itu, dalam bahasa lokal berarti hutan. Satu tempat yang sungguh sejuk. 

Atau Kaluppang yang merujuk pada identitas sebuah pohon perdu di tepian sungai Karama, Sulawesi Barat. 

Kampung lain di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu ada yang bernama Nase. Kampung kecil yang mendapatkan namanya dari tanaman jenis pandan hutan. Yang daunnya dapat digunakan masyarakat untuk membuat anyaman tikar, atau keranjang. Sekarang kampung itu telah lenyap karena digusur oleh perusahaan tambang emas PT Masmindo Dwi Area. 

Dalam kurun Niaga Asia Tenggara, karya Anthony Reid, dia juga menjelaskan agama lokal orang Sulawesi Selatan di bagian selatan disebut Patuntung. Ini adalah definisi sederhana untuk menyebutkan jika agama yang ritualnya menggunakan pohon besar atau gunung, dan dilakukan dengan usaha berjalan dengan telaten – yang dalam bahasa lokal Patuntung. 

Sekian lama, sekian ratus tahun, agama-agama baru mendefinisikan agama lokal sebagai kepercayaan kafir dan tak bertuhan. Dan ratusan tahun berjalan, definisi kafir itu kita serap sebagai kata animisme. Kepercayaan rendah dan tradisional. 

Permainan kata dan definisi sederhana itu terus berkembang hingga saat ini. Saya mencoba melompat ke era sekarang. Dimana semua orang sepakat – saya juga beberapa lama terjebak – menyepakati definisi Gen Z – generation Z. 

Babakan generasi ini membuat semua embel-embel-nya ikut dalam definisi yang disepakati bersama. Ketika menyebut Gen Z, maka hampir generasi sebelumnya yang kemudian disebut Generasi Milenium atau bahkan Baby Boomer, akan melabelinya sebagai generasi cengeng dan sukar dimengerti. 

Saya teringat, seorang kawan saya bercerita. Dia punya anak perempuan remaja. Di rumahnya dia, membicarakan era anaknya tumbuh kembang. Ungkapannya seperti ini; “Kalian itu Gen Z, kenapa cengeng sekali dan lemah,” katanya. 

Anaknya yang remaja perempuan, hanya duduk mendengar. Tanpa komentar. Tiba-tiba ketika sang anak berdiri dan hendak menuju kamarnya, dia berucap di depan ayahnya, “Permisi generasi Tangguh.” 

Ayahnya terhenyak dan tak bisa menimpali. Kisah itu disampaikannya dalam pertemuan penuh tawa. Tapi ketika kalimat anaknya itu terlontar, kami tertawa lalu terdiam. Dan kembali terbahak, untuk menertawai diri sendiri.  

Selasa, Juli 08, 2025

Kenapa orang mudah melakukan kekerasan?

Sudah beberapa bulan belakangan, diskusi Elang makin berat. Dia sudah sudah naik kelas 4 Sekolah Dasar. Dia masuk peringkat tiga besar. Dia senang. 

Kini dia punya beberapa kegiatan. Les gitar setiap selasa. Menonton film favoritnya di Netflix. Dan menggambar. Atau bermain catur dengan saya pada malam hari. 

Suatu kali dia cerita dengan serius. Soal perang Palestina dan Israel. Lalu belakangan masuk Iran dan Amerika. Dia bilang, kalau mereka punya nuklir kenapa tidak ditembakkan. Itu pasti akan menghancurkan negara musuh. Saya membiarkannya bercerita. 

Orang-orang, kata dia, menciptakan senjata nuklir dan bom atom. Lalu dia tanya kembali, mana yang lebih dahsyat, nuklir atau atom. Saya tetap mendengarkan. 

Dia diam sebentar. Lalu mengingat kisah film Spongebob SqurePants oleh Amerika di pulau kecil Bernama Bikini Atoll, antara tahun 1946 dan tahun 1956. Efeknya berkepanjangan, ada Sponge laut yang berubah wujud. Ada Petrik si bintang laut. Ada Petrik si kepiting yang punya anak seekor Paus. Tapi mungkin, kalau pakai nuklir kata dia, semua hal menjadi berubah. Seperti kehidupan di kampung Spongebob ada banyak yang bermutasi. 

Saya melihatnya dan bilang Elang tahu mutasi? Iya, itu seperti membuat sesuatu yang alamiah menjadi tidak wajar. Tapi sudah lah, semua sudah terjadi. Seandainya, orang tidak berperang, pasti dunia menjadi sangat tenang. 

Teman-temannya, di sekolah menulis dan menggambar Free Palestine. Tapi dia tak pernah melihatnya langsung. “Saya tidak tahu mau dukung siapa,” katanya. 

Kalau Elang mendukung salah satunya bagaimana? Kalau saya dukung Palestina, jadinya bisa bunuh orang Israel. Kalau dukung Israel bisa bunuh orang Palestina. “Namanya juga perang. Itu kan saling menghancurkan, seperti di game ku. Saling serang,” katanya. 

“Tapi kalau game kan untuk senang-senang ji. Tapi ini kenyataan toh,” 

“Aii bingung ka deh.” 

Bagi Elang, membunuh adalah perbuatan yang tak dapat dibayangkan. Sebab, dia pernah mengalami kejadian memilukan, dimana karibnya telah memukulnya dan hal itu membuatnya sakit hati. Dia sangat kecewa sebab sahabatnya itu sangat dekat. “Kenapa orang gampang sekali memukul. Dia nda berpikir soal sakitnya orang kah,” katanya. 

Saya mencoba menenangkannya. Saya bilang, kalau Elang masih anak-anak dan temannya. Perjalanannya masih panjang, mungkin saja suatu saat temannya akan mengerti dan akan sadar kalau itu perbuatan yang salah. Tapi Elang bersikukuh. Dia telah memutuskan untuk tak memaafkannya. Logikanya sederhana; kalau sejak kecil telah melakukan kekerasan dengan mudah, kalau besar akan lebih gampang. 

Dia lalu membuat teorinya sendiri. Baginya presiden yang berperang sekarang itu, pasti masa kecilnya suka melakukan kekerasan. Kali ini saya terhenyak. “Darimana Elang punya pikiran seperti itu?,” kataku. 

Dia lalu bilang, pikirannya spontan saja. Tapi dia melanjutkan, kalau presiden itu orang baik saat kecil, pasti dia tidak akan tega membunuh orang. “Andaikan dunia ini dipenuhi orang-orang baik, pasti akan tenang,” katanya. 

Presiden lain di suatu kabupaten 
Ada perhelatan acara besar di Maros. Namanya Gau Maraja – silahkan cari sendiri artinya. Salah satu kegiatannya di tempatkan di Taman Prasejarah Leang-Leang, pada malam 5 Juli 2025. 

Saya beberapa penampil di kegiatan itu. Ada Ibe yang akan membacakan puisi. Ada komunitas SIKU Ruang Terpadu yang akan membuat instalasi cahaya. Kami tentu saja ingin menyaksikannya. Akhirnya pada sore hari kami ke Leang-leang. Orang di depan gerbang telah membuat antrian panjang. 

Saya meminta izin masuk lebih awal di pintu samping. Seseorang mengijinkan. Ada panggung utama didirikan di sekitar batuan karst. Ada tenda besar yang diperuntukkan untuk para pejabat dan tamu undangan. 

Saya mulai tak nyaman menyaksikan konsep acara seperti ini. Jelang malam, Elang mulai bosan. Acara utama belum dimulai. Akhirnya, ketika ribuan pengunjung memasuki kawasan Taman Leang-leang pukul 19.30 tempat itu menjadi sesak. 

Kami menunggu sesaat ketika kerumunan dari luar berkurang, lalu memutuskan meninggalkan tempat kegiatan. Kendaraan kami parkir agak jauh dari taman berharap bisa dengan mudah mendapatkan akses keluar dan pulang ke rumah istirahat. 

Sialnya, macet sudah makin parah hingga sekitar 2 km. Ketika kami sudah berjalan pelan, Elang mengeluh, kalau kegiatan itu tak sesuai ekspektasinya. “Biasanya kalau Om Rais yang bikin kan akan bagus. Tapi ini tidak bagus, karena banyak orang,” katanya. 

Dia juga kecewa sebab akhirnya tak bisa melihat Ibe membaca puisi. Elang suka menonton orang membaca puisi. Dia senang dengan intonasi suara yang melafalkan setiap kata. Rasanya, bikin nyaman kata dia. 

Ketika perjalanan macet kami sudah mulai sekitar 30 menit, tiba-tiba dua orang berpakaian Dinas Perhubungan (Dishub) menyambangi. Mereka sedang mengatur jalannya kendaraan. Awalnya ini membuat legah, dia meminta kedaraan untuk mundur. 
Setelah sampai di tempat tertentu, pegawai Dishub itu meminta untuk berhenti dan menepi. Kami menunggu dengan sabar kendaraan melintas. Tiba-tiba dari depan sebuah mobil polisi masuk dan di belakangnya ada deretan mobil lain. 

Itu adalah iring-iringan Chaidir Syam, Bupati Maros. Mereka lah yang menjadi tamu VIP yang ditunggu kedatangannya agar acara bisa dimulai. Elang, menyaksikan iringan itu melintas di samping kami. 

Bupati tak pernah mengalami kemacetan. Mereka lah para pejabat itu. “Kenapa bupati harus ditunggu kalau ada acara,” kata Elang. 

“Dan harus diberikan jalan lebih bagus dari orang lain,” 

“Atau Bupati anggap dirinya lebih jago (mungkin lebih penting) dari orang lain,” 

“Itu bupati yang saya kirimkan surat dulu toh bapak,” 

“Iya,” jawabku. 

Iringan Bupati mungkin sudah sampai di Leang-leang. Kami kemudian kembali berjalan pelan. Di sisi kiri dan kanan, motor berdempetan mencari celah untuk dapat bebas dari kemacetan. Ada pasangan yang anaknya di gendongan sudah tertidur sambil menghirup asap kenalpot. 

Ada warga yang rela berjalan kaki sejauh 2 km untuk melihat perhelatan Leang-leang. “Bupati tidak peduli soal begini toh bapak,” kata Elang. 

“Sepertinya tidak,” jawabku. 

“Semua pejabat seperti itu, suka bikin susah orang lain?,” 

“Di Indonesia, sepertinya hampir semua begitu.”